kampanye

Kemenangan Joe Biden di Pemilu AS

Kemenangan Joe Biden di Pemilu AS

Selesai sudah persaingan antara Joe Biden dan Donald Trump. Sebelumnya, kedua kandidat ini bertarung untuk memperebutkan kursi kepresidenan. Tanggal 7 November 2020 menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi warga Amerika. Di tanggal ini, Joe Biden berhasil mengalahkan Donald Trump dan resmi menjadi presidem AS yang ke-46. Kemenangan Biden menjadi tanda bahwa kepemimpinan Donald Trump berakhir. Seperti yang kita ketahui, Donald Trump sebelumnya bekerja di Gedung Putih dan merupakan presiden Amerika Serikat yang ke-45.

Resmi Menjadi Presiden Amerika Serikat yang Ke-46

Kemenangan Joe Biden di Pemilu AS

Kemenangan Biden terjadi setelah melalui beberapa hari tanpa kepastian. Pada saat itu, pejabat pemilihan melakukan penyaringan lonjakan suara yang mengakibatkan penundaan pemrosesan surat suara. Joe Biden sendiri meraih 284 electoral college dan melewati batas peraihan untuk memenangkan pemilihan presiden di Amerika Serikat. Dalam menghadapi Trump, Biden fokus pada penggalangan koalisi pemilih yang berpendapat bahwa Donald Trump merupakan sebuah ancaman eksistensial untuk demokrasi di Amerika. Langkah atau strategi yang dilakukan oleh Biden terbukti cukup akurat. Ia berhasil memenangkan suara di Wisconsin, Pennylvania dan negara bagian Michigan.

Donald Trump memanfaatkan waktu penundaan pemungutan surat suara yang terjadi di negara bagian tertentu untuk menuduh penipuan pemilih. Ia menuduh bahwa Biden yang merupakan saingannya berupaya merebut kekuasaan. Tuduhan ini dinilai merupakan tuduhan yang sangat luar biasa bagi seorang presiden yang masih duduk di kursi kekuasaannya dan dinilai melakukan upaya menabur keraguan mengenai dasar demokrasi. Ketika surat suara mulai dihitung, Joe Biden justru berupaya untuk meredakan ketegangan. Ia juga bertindak dan memproyeksikan sikap kepemimpinan seorang presiden. Tidak hanya itu, Biden juga mencapai persatuan yang bertujuan mendinginkan suhu di Amerika Serikat yang terpecah belah dan memanas.

Selama berkampanye dan keluar sebagai kandidat dari partai Demokrat, Biden mendapatkan bersaingan yang cukup ketat. Kala itu ia harus bersaing dengan Elizabeth Warren dan Bernie Sanders. Kedua pesaing ini melakukan kampanye dengan sangat baik dan terorganisir. Dana kampanye yang dibutuhkan oleh kedua pesaing Biden bahkan tercukupi dengan baik. Meskipun mendapatkan banyak tekanan, Biden bersikukuh untuk memanfaatkan strategi sentris. Biden menolak mendukung biaya pendidikan gratis di perguruan tinggi, pajak kekayaan dan perawatan kesehatan universal. Dengan pandangannya ini, Biden mencoba untuk menarik perhatian dari kaum moderat. Cara ini juga dipercaya tidak akan memberikan pengaruh kepada partai Republik selama ia melakukan kampanye pemilu. Strategi yang ia pikirkan tercermin pada pemilihan Kamala Harris sebagai wakil presidennya.

Dalam melakukan kampanye, Biden melakukannya dengan amat sederhana. Dari awal tahun, dana kampanye yang dimiliki oleh Biden menipis.  Sejak bulan April, Biden melakukan penggalangan dana untuk melakukan kampanye. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Donald Trump. Ia tak segan melakukan kampanye yang dinilai boros oleh beberapa pengamat. Dana yang berhasil dikumpulkan oleh Biden digunakan untuk berkampanye di tengah pandemi virus Corona saat ini.

Wakil Presiden Asal Asia

Kemenangan Joe Biden

Dalam memimpin Amerika kelak, Joe Biden akan didampingi oleh seorang wakil presiden wanita bernama Kamala Harris. Di dalam sejarah Amerika, Kamala merupakan wakil presiden berkulit berwarna yang pertama. Sebelum menjadi wakil presiden AS, Kamala merupakan seorang senator di California. Tidak hanya itu, Kamala merupakan keturunan Asia Selatan dimana ibunya berasal dari India. Kelak ia akan menjadi wanita yang memiliki pangkat tinggi dan bertugas di pemerintahan. Selama berkampanye, Kamala mengaku bukan seorang miliarder. Ia bahkan tak mampu untuk membiayai kampanyenya sendiri. Selama berkampanye, Kamala melakukan penggalangan dana di berbagai kota. Meskipun bukan seorang miliarder, Kamala tergolong sebagai seorang jutawan. Hal tersebut dibuktikan oleh jumlah kekayaan yang dimilikinya.

Kamala Harris merupakan wakil presiden yang berasal dari partai Demokrat. Jumlah kekayaan yang dimilikinya hampir mencapai 10 juta dollar AS. Setelah luluas sekolah hukum pada tahun 1989, Kamala Harris mencoba keperuntungannya dengan bekerja di kantor kejaksaan yang berada di Califormia. Tahun 2003, Kamala menjadi seorang jaksa di San Francisco. Selama bekerja sebagai seorang jaksa, Kamala mengantungi pendapatan sebesar USD 140.000 pertahunnya. Jumlah pendapatan tersebut bertambah menjadi USD 260.000 untuk pertahunnya. Kamala kemudian memutuskan untuk pensiun. Uang pensiun yang ia dapatkan pertahunnya adalah USD 250.000.

Di tahun 2017, Kamala memutuskan untuk menjadi seorang senator. Saat itu, pendapatan yang ia raih selama tahunnya adalah  USD 150.000. Tidak hanya itu, Kamala juga pernah menerbitkan tiga buah buku dan mendapatkan uang muka senimai USD 556.000. Tahun 2014 menjadi tahun dimana Kamala bertemu dengan sang suami, Douglas Emhoff. Keduanya menikah dan membangun tiga rumah di Los Angeles, Washington dan San Francisco bersama-sama. Tiga bangunan tersebut bernilai USD 5,8 juta.